Minggu, 03 Juli 2011

Yusuf & Habibi Bocah Penjual Koran



Mungkin Sebagian dari kita tidak menyadari kerasnya kehidupan di jalanan sebagai seorang penjual koran di lampu merah, yang memulai harinya saat pagi hingga malam hari sebagai anak jalanan penjual koran.
Sebut saja Yusuf Bocah Berumur (15 tahun) dan Habibi (9 tahun) Asal Kota Samarinda yg beralamat di Samarinda Seberang Kampung Baqa Lebih tepatnya saya kurang tahu karena dia tidak ingin memberi tahukan dimana tempat tinggalnya.

Ketika saya menanyakan Tentang Profesinya sebagai penjual Koran di lampu merah memang agak sulit saya terpaksa membeli korannya dengan harga yg Cukup mahal dari harga biasanya yah tapi itu tidak seberapa demi informasi yg saya dapatkan.

Yusuf & Habibi Memulai paginya dengan naik angkot atau Tak jarang menumpang dengan Mobil-mobil yg lewat untuk menuju Tempat Percetakan Yang berada di kota Samarinda, Mereka berdua mengambil koran dari agen dengan harga yg cukup murah dan menjualnya kembali dengan harga normal yg sering kita beli entah berapa harganya sekarang saya juga tidak tau karena saya jarang membeli koran.

Yusuf & Habibi Mengaku masih memiliki orang tua, Orang tua mereka masih mampu bekerja sebagai mana orang tua lainnya. Orang tua Yusuf Bekerja Sebagai Penjual Donat keliling dan Orang tua Habibi Bekerja sebagai Kuli Panggul / Kuli Pasar yg berada di daerah rumahnya.

Yusuf & Habibi mengaku orang tuanya mengetahui Bahwa mereka berjualan Koran Di persimpangan Lampu merah dan saat saya tanya kepada mereka anehnya Orang tuanya tidak melarang sedikitpun jika anaknya berjualan koran di Persimpangan lampu merah atau berkeliling, Entah karena faktor ekonomi yg membuatnya begitu atau hilangnya hati nurani Dari kedua orang tua mereka, Saya pun tak mengetahuinya tapi mereka tidak pernah melarang sedikit pun mengetahui jika anaknya berjualan kora tersebut.

Yusuf & Habibi berjualan koran tersebut dia tidak mendapatkan paksaaan dari siapapun termasuk orang tuanya seperti yg sering kita liat pengemis yg memiliki Bos atau penyalur yg setiap harinya mengantar dan menjemput saat hari udah mulai malam.

Yusuf (15 tahun) Terpaksa berhenti sekolah karena kekurangan biaya untuk melanjutkannya, mungkin hal ini yg memaksa dia untuk turun kejalan untuk berjualan koran di lampu merah, Sedangkan Habibi (9 tahun) Masih Bersekolah dan duduk di bangku kelas 3 Sekolah dasar, Mereka menurut pengakuan mereka "tidak jadi masalah tidak jadi masalah walaupun mereka berjualan koran asalkan tiap harinya bisa makan dan uang itu di perolehnya dengan halal."

Di samping Pekerjaannya sebagai penjual koran di lampu merah Yusuf & Habibi juga memiliki cita-cita yg cukup besar Yusuf (Ingin Menjadi Pemain Timnas Sepak Bola Indonesia Seperti Irvan Bachdim) Sedangkan Habibi ( Ingin Menjadi Pemain Bulu Tangkis Seperti Taufik Hidayat), Sungguh cita-cita yg sangat besar dan kedengarannya seperti cita-cita anak seumuran mereka.
Namun Mereka harus membungkus dan menyimpan cita-cita mereka dalam-dalam di balik Saku celana mereka karena tuntutan biaya dan pekerjaan mereka sebagai penjual koran. Kedengaran Sangat Miris Sekali di telinga saya saat mendengar kata-kata mereka .

Kemarin juga sempat terjadi sedikit perbincangan diantara kami.
Saya : "Kamu gak iri de Liat teman-temanmu sekolah ?
Yusuf : Gak kak udah biasa. (Saya sedikit binggung dengan kata-kata dia)
Saya : Kok gak iri ? Memang gak mau sekolah lagi ?
Yusuf : Mau sih kak cuman gak ada uangnya.
Saya : Loh kenapa gak minta sama Orang tuamu?
Yusuf : Gak ada uang dia kak, Lagi pula buat makan aja susah.
Saya : Trus kalau ada yg biayain mau sekolah masih mau lanjutin sekolah ?
Yusuf : Mau lah kak siapa yg gak mau kalau sekolah di bayarin. (nyeletuk Habibi dari belakang)
Saya : Trus hasil dari jual koran di kemanain ?
Yusuf : Yah di tabung kak, Saya : Di tabungnya berapa ?
Yusuf : Yah kalo dapatnya 20ribu. 10ribunya buat makan trus 10ribunya lagi buat di tabung untuk biaya sekolah.
Saya : gitu yah de !
Yusuf : iya kak !

Sungguh sangat menyedihkan jika setiap anak jalanan saya tanya satu persatu mungkin saja argument mereka tidak jauh berbeda dari Yusuf & Habibi tersebut, Saya juga tidak bisa berbuat banyak mendengar kata-kata mereka tersebut.
Sungguh Beruntungnya kita di beri kehidupan yg sangat berkecukupan seperti sekarang ini di banding mereka yg memeras keringat untuk makan dan menabung untuk melanjutkan sekolahnya yg tertunda akibat biaya.

Ternyata di balik tawa dan senyuman mereka tersimpan cita-cita yg sangat besar yg sangat sulit untuk di raihnya,
Andai saja pemerintah mau memberi sedikit kekayaan mereka untuk anak-anak jalanan maka mereka pasti sangat bahagia.
Makna kemerdekaan bagi mereka hanyalah sebatas ucapan dan tulisan saja, namun tidak sedikitpun dari mereka yg merasakannya.

"Ini kah Indonesia ? Ini kah kerasnya hidup di Indonesia ? Ini kah Kerasnya Hidup sebagai anak Jalanan yg mencari Uang demi Kehidupan ?
"
Mungkin saja kata-kata itu yg akan dia sampaikan jika mereka bisa bicara. Bicara tentang bagaimana kerasnya kehidupan yg mereka jalani.

Bagaimana pun mereka adalah Orang Indonesia, Calon Penerus Bangsa ini yg patut di hargai walau pun nasib dan takdir mereka berhata lain.

Jadi Masih Banyak PR Bagi Kita sebagai penerus Bangsa Ini Bangsa Indonesia Yg Notabanennya Merdeka dari para penjajah, Namun tidak merdeka dari kemiskina dan kerasnya kehidupan di ibukota.

Ini Sebagian photo yang sempat saya ambil kemarin saat mereka sedang berjualan.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar